Harga minyak Brent mendekati $100 seiring meningkatnya konflik Iran
Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan global, kembali melonjak tajam dan mendekati level psikologis penting di angka $100 per barel di tengah kekhawatiran yang kian meningkat terhadap kebuntuan militer berkepanjangan di Timur Tengah. Kontrak berjangka untuk minyak jenis Laut Utara ini naik 2,32% dan ditutup pada level $99,32, bahkan sempat menyentuh $99,40—melampaui angka $99 untuk pertama kalinya dalam kurun waktu sekitar enam minggu. Menyikapi situasi tersebut, Goldman Sachs menaikkan proyeksi harga Brent untuk bulan Desember dari $80 menjadi $85 per barel, seraya memperingatkan bahwa serangan berkelanjutan terhadap kapal tanker dapat mendorong harga hingga ke kisaran $120.
Aktivitas militer memaksa para pelaku pasar untuk memperhitungkan premi risiko jangka panjang dalam penetapan harga. Suvro Sarkar, kepala riset energi di DBS Bank, mengatakan kepada Reuters bahwa eskalasi ketegangan dan saling serang menggunakan rudal akan memicu penyesuaian harga secara struktural terkait risiko pasokan, tidak hanya hingga akhir tahun 2026, tetapi juga hingga jauh ke tahun 2027. Pasar mengkhawatirkan gangguan pengiriman yang berkepanjangan melalui Selat Hormuz, jalur yang menjadi rute bagi sebagian besar ekspor minyak global.
Situasi ini diperparah oleh adanya ancaman langsung terhadap fasilitas milik produsen utama di kawasan Teluk Persia. Bloomberg melaporkan bahwa Arab Saudi terpaksa menutup sementara sejumlah aset energi di wilayah selatannya setelah terjadinya serangan udara dari Yaman. Pernyataan kelompok Houthi mengenai niat mereka untuk memblokir ekspor minyak Saudi menimbulkan risiko nyata terjadinya kekurangan pasokan fisik minyak mentah secara global.