Sebagian besar warga Jepang tidak melihat adanya perbaikan ekonomi nasional
Mayoritas besar warga Jepang—sebesar 78%—menyatakan tidak melihat adanya perkembangan positif dalam ekonomi nasional. Hal ini terungkap dalam survei berskala nasional yang dilakukan oleh NHK. Hanya 15% responden yang melihat tanda-tanda pemulihan, dengan rincian 2% melaporkan kemajuan signifikan dan 13% mencatat adanya perbaikan kecil. Pesimisme yang meluas di kalangan rumah tangga ini mencerminkan kesenjangan yang kian melebar antara narasi resmi pemerintah dan standar hidup masyarakat yang sebenarnya.
Faktor utama yang membebani kepercayaan konsumen adalah percepatan inflasi di tengah gejolak geopolitik. Pada bulan Juli, laju kenaikan harga konsumen di Jepang mencapai 1,9%, angka tertinggi sejak awal tahun 2026. Kenaikan biaya energi—yang dipicu oleh konflik militer berkepanjangan di sekitar Iran serta gangguan pada rantai pasokan bahan bakar global—menjadi penyumbang terbesar bagi percepatan kenaikan harga tersebut.
Tekanan ekonomi diperparah oleh perlambatan pertumbuhan secara keseluruhan serta arus perdagangan luar negeri yang tidak merata. Pada kuartal kedua tahun 2026, PDB riil Jepang hanya tumbuh sebesar 1,1%, jauh di bawah perkiraan konsensus para ekonom yang memprediksi kenaikan sebesar 2%. Sementara itu, pada bulan Juli, nilai perdagangan dengan Rusia turun sebesar 7,44% secara tahunan (*year-on-year*): impor dari Rusia anjlok 27,4%, sedangkan ekspor Jepang ke pasar Rusia melonjak 32,1% dibandingkan tahun sebelumnya.